Asisten Manajer Malut United Dilarang Beraktivitas Tiga Bulan Usai Sebut 'Mafia' dalam Sepak Bola
Asisten Manajer Malut United, Asghar Saleh, dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola Indonesia selama tiga bulan oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Keputusan ini merupakan buntut dari protes keras yang dilayangkan Asghar Saleh melalui media sosial pribadinya pasca kekalahan Malut United dari Persib Bandung dalam lanjutan Super League 2025-2026.
Protes Keras Usai Laga Kontra Persib
Insiden yang memicu sanksi ini terjadi setelah pertandingan pekan ke-20 Super League antara Malut United dan Persib Bandung pada Jumat, 6 Februari 2026, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Dalam laga tersebut, Malut United harus mengakui keunggulan Persib dengan skor 0-2. Kekalahan ini diwarnai oleh kepemimpinan wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, yang dinilai kontroversial oleh pihak Malut United.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Asghar Saleh kemudian meluapkan kekecewaannya di akun Facebook pribadinya, menuding adanya ‘mafia’ dalam pertandingan tersebut. Ia menulis, “Untuk mengalahkan Malut United, para mafia bahkan harus menggunakan jasa wasit FIFA yang kualitasnya kalah jauh dibanding wasit tarkam di kampung saya.” Asghar Saleh juga menambahkan, “Benar-benar dagelan di GBLA.” dan “Akan terus kita ingat bahwa hari ini kita dikalahkan wasit dkk.” Ia secara spesifik menyoroti keputusan penalti “lucu” untuk Persib dan penolakan wasit untuk melihat tayangan VAR atas potensi pelanggaran terhadap pemain Malut United.
Sanksi Komdis PSSI dan Tanggapan Asghar Saleh
Menanggapi unggahan tersebut, Komdis PSSI menggelar sidang dan memutuskan sanksi berat bagi Asghar Saleh. Berdasarkan Salinan Keputusan Komite Disiplin PSSI bernomor 156/L1/SK/KD-PSSI/II/2026, Asghar Saleh dilarang beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di Indonesia selama tiga bulan, terhitung sejak keputusan diterbitkan pada 12 Februari 2026. Media Officer Malut United, Agya Pradipta, membenarkan adanya sanksi tersebut.
Asghar Saleh sendiri memberikan respons atas sanksi yang diterimanya. Melalui unggahan Facebook, ia menyatakan, “Saya menyebut mafia dalam postingan FB saya dan langsung dipanggil dalam sidang Komdis. Lalu dijatuhi hukuman larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 3 bulan.” Ia juga menyindir bahwa “Tak ada nama yang saya sebut secara terang benderang karena saya tahu mafia di sepak bola Indonesia itu seperti (maaf) kentut. Berbau busuk tapi tidak bisa dipegang.” Lebih lanjut, Asghar Saleh mengkritik penegakan hukum yang dianggapnya tebang pilih, “Kalau hukum digunakan tebang pilih dan hanya untuk mengamankan kekuasaan maka hukum sama dengan kentut juga.” Ia bahkan menuding bahwa Komdis PSSI “hanya pura pura bersidang agar punya dasar menjatuhkan hukuman yang sudah disiapkan.”
Kekecewaan Malut United dan Permohonan Peninjauan Kembali
Kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit juga diungkapkan oleh COO Malut United, Willem D. Nanlohy. Ia mempertanyakan kinerja wasit Yudai Yamamoto yang, menurutnya, sudah tiga kali memimpin laga Persib musim ini namun menolak melihat rekaman VAR untuk insiden yang melibatkan David da Silva dan Tyronne del Pino. Nanlohy berharap penggunaan wasit asing dan VAR tidak dimanfaatkan untuk menguntungkan pihak tertentu.
Sebagai bentuk dukungan dan kepedulian, sebuah “Surat Terbuka” juga telah diterbitkan, memohon peninjauan kembali atas sanksi terhadap Asghar Saleh. Surat tersebut berargumen bahwa kritik adalah bagian dari mekanisme korektif dalam demokrasi olahraga, dan sanksi yang terlalu berat berpotensi menciptakan persepsi pembungkaman, yang dapat mengikis kepercayaan publik terhadap tata kelola kompetisi.




