Analisis Tragedi Kanjuruhan dari Perspektif Psiko Sosio-Sains
Jakarta: Insiden tragis yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, mengakibatkan ratusan korban dan menjadi salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah sepak bola Indonesia dan dunia. Tragedi ini seharusnya menjadi momen refleksi dan evaluasi menyeluruh untuk perbaikan budaya sepak bola di Indonesia.
Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Tjipto Prastowo, memberikan penjelasan mengenai tragedi tersebut dari sudut pandang ilmu kebumian. Menurutnya, bencana kebumian dapat dibedakan menjadi dua kategori utama.
Bencana Geologi dan Hidrometeorologi
Pertama, bencana geologi, yang mencakup fenomena seperti gempa tektonik, erupsi vulkanik, dan tsunami. Bencana ini bersifat non-antropogenik, artinya tidak dapat dipicu oleh aktivitas manusia dan tidak dapat dicegah, meskipun dampak negatifnya dapat diminimalkan.
Kedua, bencana hidrometeorologi, yang bersifat antropogenik, yaitu bencana yang dipicu oleh aktivitas manusia dan seharusnya bisa dicegah. Contoh dari kategori ini meliputi banjir bandang, banjir rob, kebakaran hutan, kekeringan, tanah longsor, dan juga kecelakaan transportasi. Tjipto menyebut tragedi Kanjuruhan sebagai salah satu contoh bencana hidrometeorologi.
“Bencana hidrometeorologi seharusnya bisa dicegah, sehingga istilah bencana alam kurang tepat jika digunakan untuk menggambarkan tragedi ini,” jelasnya. Dia menambahkan, bencana kebumian merupakan istilah yang lebih tepat dibandingkan bencana alam.
Perspektif Psiko-Sosiologi
Tragedi Kanjuruhan juga dapat dianalisis dari sudut pandang psiko-sosiologi. Tjipto menyoroti banyaknya masalah sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari distribusi bahan pangan hingga penegakan hukum yang lemah. Hal ini berpotensi menciptakan ketegangan di kalangan massa pendukung sepak bola, yang sering kali berasal dari kalangan yang lebih rendah secara ekonomi.
“Kecemburuan sosial dan stratifikasi masyarakat dapat membelah massa menjadi dua kelompok, yaitu mereka yang merasa ‘kalah’ dan ‘menang’. Polaritas ini dapat memicu friksi sosial yang berbahaya,” tambahnya.
Dia menggambarkan reaksi massa sebagai erupsi sosial yang mencerminkan tekanan yang dialami oleh individu-individu dalam masyarakat. Tragedi Kanjuruhan, dalam konteks ini, bukan hanya sebuah insiden olahraga, tetapi juga tragedi sosial yang menunjukkan bagaimana bencana antropogenik dapat menyebabkan kehilangan nyawa yang sia-sia.
Pentingnya Pembelajaran dan Perbaikan
Tanpa menyalahkan pihak manapun, Tjipto mengajak semua pihak untuk belajar dari tragedi ini. “Ini harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki budaya sepak bola, sistem pengamanan, dan interaksi antara supporter di masa depan,” ujarnya. Dia menekankan pentingnya refleksi dan perubahan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.




