Analisis Program Pembinaan Karakter di Barak Militer: Perspektif Psikologi Pendidikan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan program pembinaan karakter bagi siswa bermasalah pada tanggal 2 Mei 2025, dengan lebih dari dua ratus anak dari jenjang SMP hingga SMA yang telah dikirim ke barak militer. Program ini, yang diumumkan pada 25 April 2025, telah memicu berbagai reaksi di masyarakat, baik dukungan maupun penolakan.
Sebagian orang tua dan tokoh masyarakat mendukung inisiatif ini, percaya bahwa program tersebut dapat mendisiplinkan dan membangun karakter anak-anak yang bermasalah. Namun, kritik juga muncul dari kalangan akademisi. Haedar Nashir, guru besar dan dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, berpendapat bahwa program ini perlu dikaji ulang, mengingat pendidikan anak seharusnya didasarkan pada kurikulum yang berlandaskan kajian akademik. Ia menekankan pentingnya kritik dan masukan dari para pemangku kepentingan untuk mencapai hasil yang optimal.
Senada dengan itu, Wim Tohari Daniealdi, dosen Ilmu Hubungan Internasional di Unikom Bandung, menyoroti bahwa kurangnya dasar ilmiah dan kerangka evaluatif menjadi kelemahan utama program ini. Ia berpendapat bahwa asumsi bahwa kenakalan remaja hanya disebabkan oleh kurangnya disiplin mengabaikan faktor sosiologis dan psikologis yang juga berperan dalam perilaku anak.
Karakteristik Remaja
Masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas dan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Pada fase ini, remaja mengalami kebingungan peran dan berusaha menemukan jati diri melalui eksplorasi nilai dan tujuan hidup. Kegagalan dalam menemukan jati diri dapat mengakibatkan krisis identitas.
Perkembangan otak remaja memungkinkan mereka untuk memahami konsep-konsep abstrak dan melakukan penalaran yang lebih kompleks. Selain itu, remaja juga mulai menyadari norma sosial dan hukum yang berlaku, menunjukkan kepatuhan pada aturan yang dianggap penting bagi mereka.
Metode Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku tidak terjadi secara instan. Menurut Transtheoretical Model yang dikembangkan oleh James Prochaska dan Carlo DiClemente, terdapat lima tahapan dalam proses perubahan perilaku. Proses ini melibatkan kesadaran diri, evaluasi mandiri, penggantian kebiasaan lama dengan yang lebih positif, serta pengendalian pemicu perilaku. James A. Lenio, peneliti psikologi dari Walden University, menyebutkan sepuluh aspek yang perlu dimiliki individu untuk membantu transisi ke setiap tahapan perubahan tersebut.
Dengan mempertimbangkan karakteristik remaja dan metode perubahan perilaku, penting bagi program seperti pembinaan karakter di barak militer untuk mengintegrasikan pendekatan ilmiah dan evaluatif. Hal ini akan memastikan bahwa program tidak hanya mendisiplinkan, tetapi juga mendukung perkembangan psikologis dan sosial remaja secara menyeluruh.




