Analisis Kontradiksi Peringkat Ekonomi Indonesia oleh Lembaga Internasional
Pada akhir tahun 2016, laporan yang diterbitkan oleh Bloomberg mengenai kinerja pemimpin Asia dan Australia memicu polemik di kalangan publik. Polemik ini terjadi setelah media tersebut memberikan gelar pemimpin terbaik Asia-Australia kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), meskipun Bloomberg tidak mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal itu. Sebagian pihak mempertanyakan validitas gelar tersebut dan mencatat bahwa pemberian gelar itu lebih banyak berasal dari media domestik.
Penilaian terhadap para pemimpin dilakukan berdasarkan tiga aspek penting: pertumbuhan nilai tukar mata uang, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat dukungan publik. Dalam konteks ini, Jokowi mendapatkan nilai positif di semua aspek tersebut. Dukungan publik terhadapnya mencapai 69 persen, meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang mencapai 83 persen. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,02 persen, sementara Malaysia, yang sering dijadikan perbandingan, hanya mencatat pertumbuhan 4,3 persen.
Sementara itu, Bank Dunia mengeluarkan hasil survei mengenai kemudahan menjalankan bisnis yang menunjukkan peningkatan peringkat Indonesia dari urutan ke-109 pada tahun 2016 menjadi ke-91 pada tahun 2017. Survei ini mencakup sepuluh komponen, seperti memulai bisnis, membayar pajak, dan mendapatkan sambungan listrik, di mana semua komponen mengalami perbaikan, kecuali perlindungan bagi investor minoritas yang mengalami penurunan.
Namun, hasil positif dari Bloomberg dan Bank Dunia tidak sejalan dengan penilaian yang dikeluarkan oleh JPMorgan Chase Bank. Pada November 2016, JPMorgan menurunkan peringkat surat utang Indonesia dari overweight menjadi underweight, yang memicu reaksi dari pemerintah Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa hasil riset JPMorgan dianggap tidak kredibel dan akurat, serta berpotensi menciptakan gangguan pada stabilitas sistem keuangan nasional.
Pemerintah pun memutus kontrak dengan JPMorgan dan mencoret lembaga tersebut dari daftar bank persepsi untuk program tax amnesty. Pemerintah menilai bahwa penilaian JPMorgan tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengalami gejolak politik.
Dalam menganalisis hasil dari ketiga lembaga tersebut, dapat disimpulkan bahwa Bloomberg dan Bank Dunia adalah institusi independen yang melakukan studi dan survei tanpa intervensi dari pemerintah. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk semakin menarik sebagai tujuan investasi, di mana surat utang negara juga menjadi lebih prospektif bagi investor.
Keputusan pemerintah untuk memutus hubungan dengan JPMorgan menunjukkan keberanian dan profesionalisme dalam pengelolaan keuangan negara. Meskipun masih terdapat tantangan di luar sektor ekonomi, seperti masalah hukum dan politis, kinerja positif di bidang ekonomi harus terus dipertahankan.
Presiden Jokowi dihadapkan pada tantangan untuk memastikan rencana pertumbuhan ekonomi tidak terganggu, terutama dalam konteks politik yang sedang berkembang. Sebagai pemimpin, ia diharapkan tidak campur tangan dalam proses hukum yang sedang berlangsung, dan semua pihak diharapkan bertindak adil demi kepentingan negara.
Dengan membaiknya kondisi ekonomi dan stabilitas politik, diharapkan dukungan terhadap pemerintah dapat meningkat. Capaian positif dalam bidang ekonomi dapat menjadi modal besar bagi kemandirian bangsa dalam membuat keputusan yang tepat terkait kerjasama dengan lembaga atau negara asing.




