Analisis Framing Media Digital dalam Pemberitaan Banjir di Kota Malang: Perbandingan Media Online dan Media Sosial
Sumber Foto: Sekitar Bandung
Sudut Aspek

Analisis Framing Media Digital dalam Pemberitaan Banjir di Kota Malang: Perbandingan Media Online dan Media Sosial

Media saat ini berperan tidak hanya sebagai penyampai fakta, tetapi juga sebagai pembentuk realitas melalui proses framing informasi. Framing mengacu pada cara media mengemas suatu peristiwa, yang dapat menghasilkan sudut pandang berbeda meskipun kejadian yang sama terjadi di lapangan.

Dalam konteks bencana banjir yang melanda Kota Malang pada 28 April 2026, perbedaan penyajian informasi antara media online dan media sosial dapat terlihat jelas. Media online biasanya menyajikan berita dengan struktur yang sistematis dan berbasis data, sementara media sosial lebih cenderung menampilkan visual dramatis dengan narasi yang emosional.

Teori Framing

Teori framing menjelaskan bahwa media tidak sekadar menyampaikan realitas, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas tersebut. Erving Goffman mengemukakan bahwa framing adalah cara individu atau media mengorganisasi pengalaman untuk dipahami dalam konteks tertentu. Robert N. Entman menambahkan bahwa framing melibatkan seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu dari realitas.

Banjir di Kota Malang

Banjir terjadi di Kota Malang setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. Genangan air muncul di berbagai titik, mengganggu aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir merendam sejumlah permukiman dan jalan utama, terutama di Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Galunggung. Meskipun tidak ada korban jiwa, peristiwa ini menunjukkan adanya permasalahan dalam pengelolaan sistem drainase perkotaan.

Framing Media Online

Dalam pemberitaan media online, seperti Detik, banjir disajikan dengan pendekatan informatif. Berita tersebut menyoroti 15 titik banjir dan menjelaskan penyebabnya, yaitu hujan deras yang melampaui kapasitas drainase. Diksi yang digunakan cenderung netral, dan struktur berita disusun secara kronologis, dari penyebab hingga langkah penanganan. Dengan cara ini, media online membingkai banjir sebagai peristiwa yang dapat dijelaskan secara teknis.

Framing Media Sosial

Sementara itu, di media sosial, seperti di akun Instagram @malangraya_info, banjir dipresentasikan dengan sudut pandang yang lebih ringan. Unggahan menampilkan seorang warga yang menggunakan pelampung di tengah genangan banjir, dengan judul yang bernuansa positif. Hal ini menciptakan kesan bahwa situasi tersebut bisa disikapi dengan santai, berbeda dengan pendekatan serius yang diambil oleh media online.

Seleksi dan Penonjolan Aspek Tertentu

Framing dalam media digital menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak pernah sepenuhnya netral. Dalam kasus banjir di Kota Malang, perbedaan antara media online dan media sosial memperlihatkan bagaimana realitas yang sama dapat dikonstruksi menjadi narasi yang berbeda. Hal ini menekankan pentingnya etika jurnalistik dalam menyajikan informasi dan perlunya literasi media di kalangan masyarakat agar dapat memahami dan menyikapi framing dengan lebih kritis.