AIESEC UPNVY Gelar Program Volunteering Internasional Fokus Isu Lingkungan
AIESEC in UPNVY kembali menghadirkan incoming Global Volunteer Winter Peak 2025, sebuah program volunteering berskala internasional yang mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk terlibat langsung dalam isu lingkungan di Yogyakarta. Program ini akan berlangsung selama kurang lebih enam minggu, mulai dari 22 Desember 2025 hingga 2 Februari 2026.
Melalui incoming Global Volunteer Winter Peak 2025, para Exchange Participant (EP) akan bekerja berdampingan dengan Local Volunteer (LV) dalam berbagai kegiatan edukatif dan sosial. Fokus utama program ini mengangkat SDGs 13.3: Green Leaders yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, khususnya persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan nyata di Yogyakarta. Mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga kebiasaan sehari-hari, isu ini membutuhkan perhatian dan keterlibatan banyak pihak untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Melalui program ini, AIESEC in UPNVY ingin menciptakan ruang kolaborasi lintas budaya, di mana pemuda dari berbagai negara dapat saling belajar, berbagi perspektif, dan bekerja bersama dalam menghadapi isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah isu lingkungan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan iGV Winter Peak 2025, AIESEC in UPNVY mengadakan Education Space pada tanggal 23 Desember 2025 di Lab Diplo UPNVY dengan tema "Understanding the Climate Crisis". Agenda ini menjadi ruang belajar bersama bagi EP dan LV untuk memahami krisis iklim secara lebih dekat, tidak hanya dari sisi global, tetapi juga dari kondisi yang terjadi di Indonesia.
Education Space ini menghadirkan Kak Rifka Agnes sebagai pembicara dengan sesi berjudul "Facing the Climate Crisis". Dengan adanya sesi ini, diharapkan para peserta dapat melihat krisis iklim sebagai isu nyata yang dampaknya sudah dirasakan di berbagai daerah, termasuk di Yogyakarta.
Sebelum masuk ke sesi materi, suasana dibuat lebih santai dengan permainan Kahoot sebagai pre-test. Melalui kuis ini, EP dan LV diajak menguji pengetahuan awal mereka seputar lingkungan dan krisis iklim. Permainan ini tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga menunjukkan bahwa masih banyak hal yang bisa dipelajari bersama. Dalam sesi ini, Zaki, salah satu Local Volunteer, berhasil memperoleh poin tertinggi dan menjadi peserta dengan skor terbaik.
Setelah itu, Kak Rifka Agnes mulai membawakan materi utama. Ia menjelaskan tentang apa itu krisis iklim, bagaimana penyebabnya, serta dampak yang sudah mulai terlihat saat ini. Yogyakarta menjadi salah satu contoh wilayah yang dibahas, terutama terkait tantangan lingkungan yang dihadapi, termasuk persoalan sampah dan dampaknya terhadap kualitas lingkungan.
Tidak berhenti di situ, Kak Rifka juga mengangkat contoh dari daerah lain seperti Jakarta dan Demak. Kedua wilayah tersebut disebut menghadapi risiko serius akibat krisis iklim, seperti penurunan tanah dan kenaikan permukaan air laut yang bahkan membuat beberapa kawasan terancam tenggelam. Contoh-contoh ini membantu peserta memahami bahwa krisis iklim bukan sekadar isu masa depan, tetapi masalah yang sedang terjadi saat ini.
Diskusi berlangsung dengan suasana yang hidup dan interaktif. Para Exchange Participant dan Local Volunteer saling berbagi pendapat serta aktif mengajukan pertanyaan.
Salah satu Exchange Participant, Shary, mengangkat isu tentang Jakarta yang disebut-sebut berpotensi tenggelam. Ia bertanya,




